Penulis:

Praditya Dwi Anggara
Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Ahmad Dahlan

motret.id  –Perkembangan sektor pariwisata di Pantai Tanjung Tinggi, Kabupaten Belitung, telah menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Di balik meningkatnya jumlah wisatawan dan berkembangnya berbagai fasilitas wisata, muncul fenomena yang dikenal sebagai turistifikasi, yakni perubahan fungsi ruang dan aktivitas masyarakat yang semakin berorientasi pada kebutuhan wisatawan.

‎Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam artikel ilmiah yang disusun oleh Praditya Dwi Anggara, Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Ahmad Dahlan, yang mengkaji bagaimana turistifikasi memengaruhi perubahan fungsi ruang serta kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal di kawasan Pantai Tanjung Tinggi.

‎Dalam kajiannya dijelaskan bahwa Pantai Tanjung Tinggi, yang dikenal sebagai ikon wisata Belitung dengan hamparan pasir putih dan batu granit raksasa, mengalami perkembangan pesat sejak menjadi destinasi wisata unggulan nasional. Pertumbuhan tersebut ditandai dengan bertambahnya hotel, homestay, restoran, kafe, toko suvenir, hingga berbagai fasilitas rekreasi yang mendukung aktivitas wisata.

Baca Berita Lainnya  Masyarakat Desa Bedengung Dan Sekitarnya Berkeinginan Ada SMA di Desanya

‎Data kunjungan wisatawan Kabupaten Belitung pada tahun 2024 menunjukkan tren peningkatan yang didominasi wisatawan nusantara. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya investasi pada sektor parhotelan, kuliner, transportasi, dan jasa wisata lainnya, sekaligus mengubah wajah kawasan pesisir yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan sebagai ruang hidup masyarakat dan aktivitas perikanan.

‎Menurut Praditya, perubahan tersebut merupakan bagian dari proses turistifikasi yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membawa konsekuensi terhadap perubahan tata ruang. Kawasan pesisir yang sebelumnya menjadi ruang sosial masyarakat perlahan bertransformasi menjadi ruang ekonomi yang berorientasi pada industri pariwisata.

‎Di sisi ekonomi, perkembangan pariwisata membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, mulai dari usaha kuliner, penyewaan perahu, jasa fotografi, penginapan, hingga penjualan produk suvenir. Kehadiran sektor pariwisata juga meningkatkan kesempatan kerja dan mendorong tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan wisata.

Namun demikian, manfaat ekonomi tersebut dinilai belum tentu dirasakan secara merata. Masuknya investasi dari luar daerah berpotensi meningkatkan harga lahan, menggeser mata pencaharian tradisional, serta mengurangi akses masyarakat terhadap ruang publik apabila pengelolaannya tidak dilakukan secara bijaksana.

Baca Berita Lainnya  Diskominfo Basel Buka Layanan Konsultasi Jualan di TikTok dan Shopee.

Artikel tersebut juga mengutip berbagai penelitian internasional yang menjelaskan bahwa turistifikasi dapat memicu perubahan penggunaan lahan (land use change), meningkatnya aktivitas komersial berbasis pariwisata, hingga munculnya ketimpangan sosial apabila pembangunan lebih berorientasi pada kepentingan investasi dibandingkan kepentingan masyarakat lokal.

‎Oleh karena itu, Praditya menekankan bahwa pengembangan Pantai Tanjung Tinggi perlu menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Pemerintah daerah diharapkan mampu mengintegrasikan kebijakan tata ruang, pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat lokal, serta penguatan UMKM agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara adil dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, Pantai Tanjung Tinggi tidak hanya dapat mempertahankan posisinya sebagai destinasi wisata unggulan nasional, tetapi juga menjadi contoh pembangunan pariwisata yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.